Menjadi Ibu Bahagia

Berat banget postingan kali ini. Karena gue pun masih meraba-raba hal ini. Menjadi ibu itu learning by doing, enggak ada pelatihannya. Kalau pun ada pelatihan pra nikah, juga enggak menggambarkan realitas sebenarnya.

Postingan ini gue buat setelah rampung membaca buku Kim Ji Yeong-Lahir tahun 1982, yang lagi viral filmnya kemarenan. So, gue jadi mendapat inspirasi untuk membahas hal ini. Karena gue ibu berpengalaman yang kurang-lebih bisa sharing tentang ini.

Buku itu menceritakan tentang seorang ibu dari korea, namanya Kim Ji Yeong. Sebetulnya agak rempong membaca buku dengan nama yg agak panjang gini, apalagi hampir di setiap scene nama tokohnya selalu di sebut lengkap-lengkap. Udah gitu mirip-mirip namanya. Kalo indonesia kan enak, namanya Lusi, Pitri, Doni, gitu kan simpel yak.

Kim Ji Yeong hidup di korea di tahun yang masih kental budayanya. Seperti nilai-nilai di masyarakat tentang kedudukan laki-laki dan perempuan. Ia sebagai perempuan sering mengalami diskriminasi atas kodratnya itu. Inilah yang menjadi inti permasalahan buku ini. Mungkin bisa dibilang buku ini berbau feminisme sekali.

Klimaks cerita sebetulnya sudah dibuka di awal cerita, bahwa Kim Ji Yeong mengalami depresi pasca melahirkan. Lalu satu persatu dikupas pengalaman hidup Kim Ji Yeong dari kecil bahkan dari kehidupan neneknya, yang memang mengikuti nilai masyakarat bahwa kedudukan perempuan lebih rendah dari laki-laki. Bahkan melahirkan anak perempuan pun menjadi hal yang memalukan.

https://cdn.cgv.id/uploads/movie/compressed/19039200.jpg

Ceritanya cukup banyak, tentang potongan-potongan fase kehidupan Kim Ji Yeong yang semuanya berkaitan dengan diskriminasi, baik ketika sekolah, kuliah, dan bekerja.

Ketika menikah pun Kim Ji Yeong merasa tidak adil bahwa ia harus berhenti bekerja untuk merawat anak. Bisa dibilang semua hal dalam kehidupan Kim Ji Yeong harus ia jalani semata-mata karena manut dengan tradisi yang ada.

Nah, berikut penilaian pribadi dari gue ya. Kalau enggak setuju nggak apa-apa, namanya juga pendapat pribadi.

Jujur ketika membaca buku, gue pasti selalu berandai-andai jika gue yang menjalani kisah tersebut. Makanya gue sering baper kalau baca novel atau nonton film. Dan ketika baca buku ini pun, gue kayak merasakan aura negatif dari pengalaman hidup Kim Ji Yeong. Gila bener, kalau gue jadi dia, yah mungkin bunuh diri aja. Lingkungan yang enggak adil dan dia sendiri pun sering kali enggan untuk buka mulut dengan apa yang dia rasa. Gemes dan ngerasa, yaelah gini amat.

Menurut gue wajar juga ya orang korea banyak setres dan bunuh diri. Karena standar hidup mereka dari budaya dan nilai-nilai masyarakat. Yang mana hal itu selalu berubah-ubah sepanjang waktu. Yang menarik salah satunya kalimat ibunya Kim Ji Yeong

“Kalau begitu, kenapa Ibu tidak menjadi guru?”
“Karena Ibu harus bekerja untuk menyekolahkan paman-pamanmu. Itulah yang dilakukan semua orang. Pada masa itu, para wanita hidup seperti itu.”
“Kalau begitu, Ibu bisa menjadi guru sekarang.”
“Sekarang Ibu harus mencari uang untuk menyekolahkan kalian. Itulah yang dilakukan semua orang. Itulah yang dilakukan para ibu.”

-hal.34

Sedih banget kan. Ibunya Kim Ji Yeong kayak lahir di masa yang salah banget.

Nah makanya, gue sebagai orang beragama islam sangat merasa beruntung. Setidaknya hal-hal yang kita kerjakan di dunia ini mendapat balasannya di akhirat kelak.

Orang korea banyak yang atheis. Dan buku ini pun tidak menyinggung tentang ketuhanan. Jadi mungkin Kim Ji Yeong juga atheis. Wajar kalau dia mempertanyakan ketidakadilan yang ia rasakan. Kenapa kok gue yang harus ngurus anak? Kenapa kok gue yang harus ngerjain ini-itu, manfaat untuk gue apa? Kok gue yang harus rugi berkorban.

Dengan kata lain Kim Ji Yeong nggak punya alasan kuat dan logis untuk bertahan agar nggak depresi. Buat apa begini, buat apa begitu. Dia merasa tersiksa karena merasa nggak dapet apa-apa dan merasa jadi pihak yang malang dan dirugikan.

Coba dalam islam, menjadi ibu rumah tangga ditawari balasan pahala yang begitu besar. Hamil, melahirkan, Menyuapi anak, mencuci baju, mencuci piring, semua ada nilai pahalanya. Bahkan mengajarkan membaca untuk anak, pahalanya bisa mengalir sepanjang hayat anak tersebut. Belum lagi bermesraan dengan suami dan banyak lagi hal lainnya. Semua hal di rumah tangga islami ditawarkan banyak benefit. Walau benefit itu bisanya diambil di akhirat, tapi cukup untuk menumbuhkan optimis dalam hati para ibu-ibu.

Sementara Kim Ji Yeong mempertanyakan kenapa harus perempuan mengalami sakitnya hamil dan melahirkan, membuat dia ragu untuk punya anak di awal pernikahannya. Sementara kita yang beragama justru menganggap itu adalah ladang pahala yang amat besar.

Bersandar pada nilai-nilai selain agama, akan membuat kita lelah dan setres. Nilai-nilai di masyarakat selalu berubah, sementara ketetapan agama selalu sama dari awal sampai akhir. Wanita diwajibkan berjilbab dari zaman dulu sampai sekarang, tidak berubah. Kedudukan perempuan dan laki-laki sudah diatur sesuai porsinya, tidak pernah berubah. Pelajari lebih dalam, dan kita akan tahu bahwa adil itu bukan berarti sama rata, tapi sesuai porsinya.

Laki-laki diberi raga yang lebih kuat agar bisa berurusan dengan hal-hal berat seperti bekerja. Wanita diberi rahim plus dengan berbagai kemuliaannya.

Dan lalu muncul ragam protes-protes dari para wanita tentang kesetaraan. Dan anehnya, kenapa ya kok cuma wanita yang protes? Coba dong laki-laki yang protes gitu, kenapa harus mereka yang capek-capek kerja banting tulang, mereka pasti juga mau rebahan nonton tivi sambil momong anak 😂. Tapi anehnya enggak ada laki-laki yamg protes kayak gitu. Mungkin memang sudah ada gen protes yang tertanam dalam diri setiap wanita. Ini-itu protessss melee. Heran gue juga. Wkwk.

Sebetulnya pemikiran Kim Ji Yeong ini ada dalam setiap wanita. Namun outputnya tergantung bagaimana wanita itu sendiri mengatasinya. Gue pun juga berpikiran seperti itu. Seperti kalimat Kim Ji Yeong kepada suaminya ini saat mereka berencana mempunyai anak,

“Kau berkata kita sebaiknya tidak memikirkan apa yang hilang dari kita. Aku mungkin akan kehilangan masa muda, kesehatan, pekerjaan, rekan kerja, teman-teman, rencana hidup, dan masa depanku. Karena itu aku selalu memikirkan apa yang akan hilang dariku. Tetapi apa yang akan hilang darimu?”

-hal.136

Gue pernah menuliskan kalimat seperti ini di note lama gue. Gue tuliskan ketika lagi bete berat bengang bengong di rumah. Solusinya untuk gue ya kembali ke fitrah diri, mendekatkan diri kepada Allah, bagaimanapun setan akan selalu membisikkan hal-hal negatif agar kita jauh dari Allah.

Jangan tersinggung kalau emak lagi setres lalu dibilang kurang iman. Karena memang demikian kenyataannya. Jika kita makin marah dibilang kurang iman, ya berarti mungkin emang bener. Kurang iman itu kayak gimana? Apakah kita sholat tepat waktu, sholat sunnah, baca quran minimal 1 juz per hari, sedekah? Kalau jawabannya “enggak” yaa berarti memang ente lagi kurang iman. Jangan denial dong.

Kalau ente udah ngelakuin itu semua tapi masih setres, berarti masih ada yang perlu di perbaiki lagi, mungkin sholatnya kurang khusyu, hati kurang ikhlas, kurang berserah, baca quran tapi nggak paham dan sebagainya. Intinya tetap kembali ke Allah terus.

Jadi gue kalau lagi bete berat pasti sangkut pautnya ke situ. Kenapa ya, emosi bener sama anak, oh iya baru baca quran selembar doang! Tambah lagi ahh. Ngecharge iman diri sendiri. Kan udah tahu bahwa Alquran itu obat hati. Beda ama obat kimia, obat yang ini nggak bikin over dosis klo digunakan banyak-banyak. Makin banyak baca dan memahami, insyaAllah makin sehat.

Itulah keuntungan jadi orang islam. Kalau setres ada obatnya, Al-Quran. Kalau orang enggak punya agama obatnya apa? Arak? Soju? Beer? Narkoba? Miras oplosan? Semua itu bukan obat, melainkan racun yang memperburuk mental dan kesehatan kita.

Jadi inget kata kakak gue, yang dulu tinggal di jepang. Orang di sana biasanya memang ogah punya anak, katanya repot. Dan nggak guna juga, karena setelah anak mencapai umur 20 tahun, mereka akan mandiri dan hidup bebas. Orang tua enggak boleh lagi ikut campur urusan anak. Bahkan orang tua bisa di usir kalau mengunjungi anaknya. Kalau bengini jelas kan, hidup bermodal kasih dan cinta aja enggak cukup. Harus ada keimanan yang mumpuni. Dalam islam kedudukan orang tua itu luar biasa.

Enggak heran kalau artis-artis korea yang akhir-akhir ini bunuh diri, ditemukan sendirian aja di tempat tinggal mereka yang mewah. Hidup bergelimang harta memang enggak ada hubungannya sama bahagia. Jadi, kenapa kita harus serius banget nyari materi di dunia ini? Kenapa takut banget telat masuk kantor dibanding telat jamaah di masjid?? Hayooo.

Gitu gaesss…

-postingan buat diri sendiri, kaga usah baper, gue kaga ngomongin lo. 😜