Manajemen Waktu Ibu Rumah Tangga

Gile berat amat materi gue, kayak udah bener aje.

Oke jadi hari ini walau bangun jam 5-an gue masih berhasil menyelesaikan tugas domestik, masak sosis aja yg simpel buat makan dan juga bekal anak sekolah. Lalu nyuci baju juga nyambi pas lagi masak. Lalu nyuci piring juga yang emang gak begitu banyak. Dan setelah kelar jemurin pakaian, gue pun jalan jalan dikit jam 8pagi keliling dan maen ayunan bentar ama bocah. Lalu balik lagi ngaso di rumah babeh sambil ngemil-ngemil yang bisa di emil. Sambil nulis postingan ketiga yang kelar dalam tempo 1 jam-an. Ini semua produktif sekaleee pageee eneee..

Emang suka ada gitu sih. Hari dimana produktif banget dan ada hari yang rebahan banget. Menurut gue its okay aja. Enggak perlu memforsir diri untuk harus banget setiap hari begini dan begitu. Bukan apa-apa, perasaan ketika gagal menjadi produktif akan menjadi penyesalan dan berujung pada ketidak bersyukuran. Jadi yaa kalo bisa produktif ya Alhamdulillah, kalo harus rebahan seharian ya wa syukurillah.

Terkadang mau produktif, eh tapi anak kok rewel banget seharian, atau kok mood lagi jeleeekkk banget. Ya enggak usah maksain. Kadang target gue dalam sehari cukup sholat 5 waktu aja dah yang wajib. Masak dan lainnya kalau enggak mood ya udah bhayyyy. Enggak usah dibikin ribet. Rumah berantakan bodo amat, diceramahin emak kok rumah kek kapal pecah, selow ajeee. Wkwk.

Hidup kita pokoknya jangan dibikin ribet sama penilaian orang lain ya. Inget, yang penting itu pendapatnya Allah, bukan pendapat tetangga.

Kadang kita terlalu cepat tanggap terhadap penilaian orang lain. Inget ya, orang lain nggak akan kenyang-kenyang dengan julid-annya. Jadi enggak ada gunanya untuk menanggapi apa kata orang lain.

Hal ini untuk gue pribadi sudah gue terapkan. Bahkan gue terkesan judes terhadap orang lain yang berani komen-komen yang tidak gue suka.

Saat orang lain komen, "eh jadi emak-emak harus dandan" tanggapan gue, ya emang gue males dandan trus lu mau ape, kaga usah lihat muka gue kalau enggak suka. Ribet bat lu, enggak semua orang suka lipstikan kek elu. Bibir gue suka gerah di lipstikin. Demen bat bikin orang insecure.

Ketika emak ngomel rumah berantakan, "Yah, mah biarin aja napa, dirapiin juga ntar berantakan lagi". Emak geleng-geleng, gue tetep aje rebahan maen hape. Bodo dah.

Mertua komen ini - itu, yah dijawab aja dengan sebenarnya. Enggak sungkan-sungkan gue tuh orangnya. Apa adanya. Judes adanya. Hahahah.

Dan menurut gue membiasakan diri untuk mengungkapkan perasaan apa adanya ini tuh penting banget ya. Untuk penangkal stress juga. Tahu kan stress itu pangkalnya dari dongkol di hati yang tak terucapkan.

Dan lalu apa hubungan dengan manajemen ibu rumah tangga? Wkwk. Intinya adalah,

Manajemen waktu ibu rumah tangga itu penting namun jangan saklek ya. Mau rencana telaksana ataupun tidak, kita harus percaya bahwa itu sudah takdir Allah yang terbaik.

Untuk kesehariannya, gue sering buat to do list untuk dikerjakan hari itu. Target kerjaan, target ibadah, target masakan dan target belanjaan di tukang sayur. Simple aja kan.

Ini contoh yang gue bikin.

Kadang terpenuhi, kadang kaga. Kadang sempet ditulis, kadang kaga. Biasa aja. Kita kaga setres di rumah doangan aja, udah alhamdulillah gaesss. Haha.

Menjadi Ibu Bahagia

Berat banget postingan kali ini. Karena gue pun masih meraba-raba hal ini. Menjadi ibu itu learning by doing, enggak ada pelatihannya. Kalau pun ada pelatihan pra nikah, juga enggak menggambarkan realitas sebenarnya.

Postingan ini gue buat setelah rampung membaca buku Kim Ji Yeong-Lahir tahun 1982, yang lagi viral filmnya kemarenan. So, gue jadi mendapat inspirasi untuk membahas hal ini. Karena gue ibu berpengalaman yang kurang-lebih bisa sharing tentang ini.

Buku itu menceritakan tentang seorang ibu dari korea, namanya Kim Ji Yeong. Sebetulnya agak rempong membaca buku dengan nama yg agak panjang gini, apalagi hampir di setiap scene nama tokohnya selalu di sebut lengkap-lengkap. Udah gitu mirip-mirip namanya. Kalo indonesia kan enak, namanya Lusi, Pitri, Doni, gitu kan simpel yak.

Kim Ji Yeong hidup di korea di tahun yang masih kental budayanya. Seperti nilai-nilai di masyarakat tentang kedudukan laki-laki dan perempuan. Ia sebagai perempuan sering mengalami diskriminasi atas kodratnya itu. Inilah yang menjadi inti permasalahan buku ini. Mungkin bisa dibilang buku ini berbau feminisme sekali.

Klimaks cerita sebetulnya sudah dibuka di awal cerita, bahwa Kim Ji Yeong mengalami depresi pasca melahirkan. Lalu satu persatu dikupas pengalaman hidup Kim Ji Yeong dari kecil bahkan dari kehidupan neneknya, yang memang mengikuti nilai masyakarat bahwa kedudukan perempuan lebih rendah dari laki-laki. Bahkan melahirkan anak perempuan pun menjadi hal yang memalukan.

https://cdn.cgv.id/uploads/movie/compressed/19039200.jpg

Ceritanya cukup banyak, tentang potongan-potongan fase kehidupan Kim Ji Yeong yang semuanya berkaitan dengan diskriminasi, baik ketika sekolah, kuliah, dan bekerja.

Ketika menikah pun Kim Ji Yeong merasa tidak adil bahwa ia harus berhenti bekerja untuk merawat anak. Bisa dibilang semua hal dalam kehidupan Kim Ji Yeong harus ia jalani semata-mata karena manut dengan tradisi yang ada.

Nah, berikut penilaian pribadi dari gue ya. Kalau enggak setuju nggak apa-apa, namanya juga pendapat pribadi.

Jujur ketika membaca buku, gue pasti selalu berandai-andai jika gue yang menjalani kisah tersebut. Makanya gue sering baper kalau baca novel atau nonton film. Dan ketika baca buku ini pun, gue kayak merasakan aura negatif dari pengalaman hidup Kim Ji Yeong. Gila bener, kalau gue jadi dia, yah mungkin bunuh diri aja. Lingkungan yang enggak adil dan dia sendiri pun sering kali enggan untuk buka mulut dengan apa yang dia rasa. Gemes dan ngerasa, yaelah gini amat.

Menurut gue wajar juga ya orang korea banyak setres dan bunuh diri. Karena standar hidup mereka dari budaya dan nilai-nilai masyarakat. Yang mana hal itu selalu berubah-ubah sepanjang waktu. Yang menarik salah satunya kalimat ibunya Kim Ji Yeong

"Kalau begitu, kenapa Ibu tidak menjadi guru?"
"Karena Ibu harus bekerja untuk menyekolahkan paman-pamanmu. Itulah yang dilakukan semua orang. Pada masa itu, para wanita hidup seperti itu."
"Kalau begitu, Ibu bisa menjadi guru sekarang."
"Sekarang Ibu harus mencari uang untuk menyekolahkan kalian. Itulah yang dilakukan semua orang. Itulah yang dilakukan para ibu."

-hal.34

Sedih banget kan. Ibunya Kim Ji Yeong kayak lahir di masa yang salah banget.

Nah makanya, gue sebagai orang beragama islam sangat merasa beruntung. Setidaknya hal-hal yang kita kerjakan di dunia ini mendapat balasannya di akhirat kelak.

Orang korea banyak yang atheis. Dan buku ini pun tidak menyinggung tentang ketuhanan. Jadi mungkin Kim Ji Yeong juga atheis. Wajar kalau dia mempertanyakan ketidakadilan yang ia rasakan. Kenapa kok gue yang harus ngurus anak? Kenapa kok gue yang harus ngerjain ini-itu, manfaat untuk gue apa? Kok gue yang harus rugi berkorban.

Dengan kata lain Kim Ji Yeong nggak punya alasan kuat dan logis untuk bertahan agar nggak depresi. Buat apa begini, buat apa begitu. Dia merasa tersiksa karena merasa nggak dapet apa-apa dan merasa jadi pihak yang malang dan dirugikan.

Coba dalam islam, menjadi ibu rumah tangga ditawari balasan pahala yang begitu besar. Hamil, melahirkan, Menyuapi anak, mencuci baju, mencuci piring, semua ada nilai pahalanya. Bahkan mengajarkan membaca untuk anak, pahalanya bisa mengalir sepanjang hayat anak tersebut. Belum lagi bermesraan dengan suami dan banyak lagi hal lainnya. Semua hal di rumah tangga islami ditawarkan banyak benefit. Walau benefit itu bisanya diambil di akhirat, tapi cukup untuk menumbuhkan optimis dalam hati para ibu-ibu.

Sementara Kim Ji Yeong mempertanyakan kenapa harus perempuan mengalami sakitnya hamil dan melahirkan, membuat dia ragu untuk punya anak di awal pernikahannya. Sementara kita yang beragama justru menganggap itu adalah ladang pahala yang amat besar.

Bersandar pada nilai-nilai selain agama, akan membuat kita lelah dan setres. Nilai-nilai di masyarakat selalu berubah, sementara ketetapan agama selalu sama dari awal sampai akhir. Wanita diwajibkan berjilbab dari zaman dulu sampai sekarang, tidak berubah. Kedudukan perempuan dan laki-laki sudah diatur sesuai porsinya, tidak pernah berubah. Pelajari lebih dalam, dan kita akan tahu bahwa adil itu bukan berarti sama rata, tapi sesuai porsinya.

Laki-laki diberi raga yang lebih kuat agar bisa berurusan dengan hal-hal berat seperti bekerja. Wanita diberi rahim plus dengan berbagai kemuliaannya.

Dan lalu muncul ragam protes-protes dari para wanita tentang kesetaraan. Dan anehnya, kenapa ya kok cuma wanita yang protes? Coba dong laki-laki yang protes gitu, kenapa harus mereka yang capek-capek kerja banting tulang, mereka pasti juga mau rebahan nonton tivi sambil momong anak ๐Ÿ˜‚. Tapi anehnya enggak ada laki-laki yamg protes kayak gitu. Mungkin memang sudah ada gen protes yang tertanam dalam diri setiap wanita. Ini-itu protessss melee. Heran gue juga. Wkwk.

Sebetulnya pemikiran Kim Ji Yeong ini ada dalam setiap wanita. Namun outputnya tergantung bagaimana wanita itu sendiri mengatasinya. Gue pun juga berpikiran seperti itu. Seperti kalimat Kim Ji Yeong kepada suaminya ini saat mereka berencana mempunyai anak,

"Kau berkata kita sebaiknya tidak memikirkan apa yang hilang dari kita. Aku mungkin akan kehilangan masa muda, kesehatan, pekerjaan, rekan kerja, teman-teman, rencana hidup, dan masa depanku. Karena itu aku selalu memikirkan apa yang akan hilang dariku. Tetapi apa yang akan hilang darimu?"

-hal.136

Gue pernah menuliskan kalimat seperti ini di note lama gue. Gue tuliskan ketika lagi bete berat bengang bengong di rumah. Solusinya untuk gue ya kembali ke fitrah diri, mendekatkan diri kepada Allah, bagaimanapun setan akan selalu membisikkan hal-hal negatif agar kita jauh dari Allah.

Jangan tersinggung kalau emak lagi setres lalu dibilang kurang iman. Karena memang demikian kenyataannya. Jika kita makin marah dibilang kurang iman, ya berarti mungkin emang bener. Kurang iman itu kayak gimana? Apakah kita sholat tepat waktu, sholat sunnah, baca quran minimal 1 juz per hari, sedekah? Kalau jawabannya "enggak" yaa berarti memang ente lagi kurang iman. Jangan denial dong.

Kalau ente udah ngelakuin itu semua tapi masih setres, berarti masih ada yang perlu di perbaiki lagi, mungkin sholatnya kurang khusyu, hati kurang ikhlas, kurang berserah, baca quran tapi nggak paham dan sebagainya. Intinya tetap kembali ke Allah terus.

Jadi gue kalau lagi bete berat pasti sangkut pautnya ke situ. Kenapa ya, emosi bener sama anak, oh iya baru baca quran selembar doang! Tambah lagi ahh. Ngecharge iman diri sendiri. Kan udah tahu bahwa Alquran itu obat hati. Beda ama obat kimia, obat yang ini nggak bikin over dosis klo digunakan banyak-banyak. Makin banyak baca dan memahami, insyaAllah makin sehat.

Itulah keuntungan jadi orang islam. Kalau setres ada obatnya, Al-Quran. Kalau orang enggak punya agama obatnya apa? Arak? Soju? Beer? Narkoba? Miras oplosan? Semua itu bukan obat, melainkan racun yang memperburuk mental dan kesehatan kita.

Jadi inget kata kakak gue, yang dulu tinggal di jepang. Orang di sana biasanya memang ogah punya anak, katanya repot. Dan nggak guna juga, karena setelah anak mencapai umur 20 tahun, mereka akan mandiri dan hidup bebas. Orang tua enggak boleh lagi ikut campur urusan anak. Bahkan orang tua bisa di usir kalau mengunjungi anaknya. Kalau bengini jelas kan, hidup bermodal kasih dan cinta aja enggak cukup. Harus ada keimanan yang mumpuni. Dalam islam kedudukan orang tua itu luar biasa.

Enggak heran kalau artis-artis korea yang akhir-akhir ini bunuh diri, ditemukan sendirian aja di tempat tinggal mereka yang mewah. Hidup bergelimang harta memang enggak ada hubungannya sama bahagia. Jadi, kenapa kita harus serius banget nyari materi di dunia ini? Kenapa takut banget telat masuk kantor dibanding telat jamaah di masjid?? Hayooo.

Gitu gaesssโ€ฆ

-postingan buat diri sendiri, kaga usah baper, gue kaga ngomongin lo. ๐Ÿ˜œ

Memilih Tema Blog Pemula



Oh ya. Kini kita ada di postingan kedua gaess. Kira-kira apa yang mau gue tulis? Karena dari kemarin gue sangat mumet sekali memilih tema untuk blog ini. Sepertinya gue kemakan sama standar aesthethic anak jaman sekarang. Apa-apa ribet banget sama penampilan!

Lalu hari ini gue pun masih pusing pilah pilih, puluhan kali ganti tema. Install-uninstall. Nih gue sebenernya maunya gimana?

(Update 2 hari kemudian)

Yeahhh aku kembaliii... gokil dah nulis satu postingan aja pake loading segala 2 hari. So, jadi gue sibuk bulak balik gonta ganti tema blog sampe bingung sendiri. Dan lalu mulai lagi buka pinterest nyari tips ini itu. Dan lalu ketemu sesuatu bernama "Group Pin" or terdengar seperti itu. Berusaha mempelajari. Dan lalu gue jadi ribet lagi. Pengen bikin pinterest bisnis dulu, terus mau bikin instagram dulu dan mau posting di situ dulu.

Helawww

Mau ngeblog aja kok jadi ribet dah. Lagi-lagi gue membiarkan sisi perfeksionis gue menguasai. Inget yaaa inget nih... ngeblog itu sejatinya HANYA NULIS. Gak usah ribet ama ini itu! Percuma juga kalau udah ngelakuin banyak hal tapi bagian nulisnya masih mood-mood-an. Konten is the key, gak usah ribet ama marketingnya dulu.

Untuk tema, gue nyari yang mobile friendly. Tampilan satu kolom. Jujur gue belum lihat blog ini versi dekstopnya gimana. Tapi di tampilan mobile, kurang lebih udah sesuai yang gue mau. Tapi sebetulnya masih kurang pas di beberapa bagian. Tapi yah kita pelajari sedikit demi sedikit. Gue masih mencari dan lihat-lihat plugin apa yang kira-kira cocok.

Kemaren udah nemu sih plugin yang supaya gambar bisa langsung ada pin it button-nya. Gue pun nyari-nyari tema di beranda wordpress aja. Ada ribuan tema di situ. Gue cari khusus yang 1 kolom dan pengen yang ada tampilan gambar postingannya. Bisa diatur sih kita mau cari yang tema gimana. Tadinya pengen yang tema pinky gitu tapi kok gada yang cocok di hati. Udahlah daripada ribet bin mumet. Comot aja yang sekiranya hampir mendekati yang gue mau.

Menurut yang gue pelajari, blog itu yang penting simple dan mudah di load. Percuma kalau penampilan bagus tapi pas diklik kaga keluar-keluar tuh website. Blog itu yang penting tulisannya, inget! Tulisannya!! (Mengingatkan diri sendiri).

Btw, gue pas milih tema ini juga kebetulan ada pengaturan untuk mengatur font-nya. Beberapa tema lain enggak menyertakan ini. Makanya logo tulisan Lagamis di paling atas itu juga bisa diubah fontnya, begitu juga tulisan di postingan ini. Segitu aja sih udah asik. Tapi pengennya tulisan Lagamis di atas tuh warna pink, tapi yaudahlah mungkin nanti gue akan nemu cara ngerubahnya.

Oke, sekarang fokus dulu untuk terus mengisi blog ini dengan tulisan ๐Ÿ˜€.



CARA MENULIS POSTINGAN PERTAMAMU



Hai gaesss...

Jujur gue bingung mau posting bagaimana di situs ini. Terlalu banyak rencana dan pikiran justru membuat gue meratapi blog ini yang enggak jadi-jadi diisi.

Betewe, sekarang hampir maghrib setelah seharian mencari inspirasi. Oh bukan, tepatnya gue mencari inspirasi sudah 3 tahun lalu, saat gue memutuskan membeli tutorial premium dari Vatih.com dan lalu mulai membacanya 2 tahun kemudian dan baru bikin blognya 1 tahunnya lagi. Sungguh aku gerak cepat sekali bagai siput keseleo.

Oke, gue akan mulai di tahun 2019!!! Dan lalu tiba-tiba hari ini sudah 6 januari 2020. Dan sebelum tahun baruan, gue udah berusaha membuat rencana-rencana entah apa tentang masa depan dan tentang blog ini. Cari inspirasi sampai butek di pinterest yang mana kebanyakan adalah postingan yang udah gue liat juga dari 3-4 tahun yang lalu. Yang mana si pemilik postingan udah kaya raya sementara gue masih berwacana sambil berkaca "NGAPAIN AJA LU!".

Seperti hari ini yang sampai detik tadi-tadi gue masih mencari inspirasi di pinterest sampai gue menemukan satu postingan tentang "Apa Yang Harus Kau Tulis di Postingan Pertamamu??". Sebuah tulisan yang amat menyindir gue dan mungkin inilah hidayah dari Allah setelah 3-4 tahun penantian.

Dalam artikel berbahasa inggris itu, dia menceritakan tentang postingan pertama dia yang sampah-able. Betewe, entah kenapa gue bisa paham walaupun bahasa inggris. Karena gue pikir gue enggak hebat dalam bahasa inggris, tapi mungkin karena dia menulis dengan kata-kata yang mudah sehingga gue membacanya dengan nyaman bahkan ngerti dengan bercandaan yang dia tulis. Atau mungkin gue udah paham bahasa inggris, hanya saja masih belepotan kalau ngomong atau nulisnya.

Dan postingan pertama dia yang sampah-able tersebut sangat relevan dengan postingan-postingan blog gue yang dari jaman dulu emang nggak bermutu. Semacam ocehan-ocehan sehari-hari yang enggak banyak faedahnya. Tapi ya, first blognya dia itu tahun 2017 men! Dan saat ini kemajuan penulisan dia sangat keren dan jelas blognya menghasilkan duit. Dan lo tau kapan gue bikin my first blog ever???? (Pengen jadi anak jaksel yang nyelipin english). First blog gue itu tahun 2006!! Wicis almost 14 tahun agooo!!!!

Dan kemampuan menulis gue masih sebatas gini-gini ajeeeeyyy.

Oke, mungkin memang ini gaya gue, makanya dari 3-4 tahun lalu gue bengong aja liat blog-blog duit-able yang artikelnya bermutu dan klik-able itu. Karena gue mungkin enggak ketemu cocoknya tuh dimana sama gaya penulisan gue yang ambyar begini. Apa tulisan cem gini bisa ngehasilin duit? Pokoknya gue tulis dulu aja deh daripada hangus nih domain.

Why namanya Lagamis? Ini adalah domain yang gue beli pertengahan 2015. Iya, udah 5 tahun yang lalu. Gue bikin untuk bisnis gue, jualan celana. Yang kini nasibnya udah setengah lepas sakarotul maut. Yang gue putuskan untuk cabut nyawanya dari tahun lalu. Namun domainnya ingin selalu gue kenang sebagai pengingat bahwa gue juga pernah eksis berbisnis.

Kenapa berhenti bisnis? Gue emang malu dan nggak enak hati sama semua orang yang tahu gue berbisnis Lagamis, apalagi sama agen-agen. Tapi gue harus mengakhiri ini semua. Makin mantap ketika gue ngeliat bahwa bisnis online Aniqoh Project ternyata juga udah tutup lapak dan juga banyak bisnis-bisnis lain yang juga udah entah gimana. Di situ gue baru berasa bahwa gue enggak sendiri terpuruk begini. Yang lain juga mengalami. Apalagi gue produsen, yang mana urusannya lebih ribet karena harga kain yang terus naik dan penjahit yang enggak konsisten hasil jahitannya. Sungguh dilema. Tapi sekarang insyaAllah udah rela.

Gue berusaha banting setir ke jualan-jualan lain. Sebetulnya udah lama juga gue selingkuh jualan popok lah, jualan baju anak, herbal dll. Tapi baru seriusin akhir tahun lalu. Gue daftar jadi reseller gamis branded. Lo tau gamis branded? Gamis dengan merk jelas ya, bukan gamis bodong yang 30ribu perak di shopee yang lebih tipis dari saringan tahu itu ya.

Dan lalu gue jadi haus akan gamis branded ini, karena gue baru tahu kalau gamis bermerk itu ada harga ada rupa. Berkualitas dan nyaman dipakai. Lalu gue jadi hebring beli baju buat diri sendiri, huahaha.

Dan lalu kalau kayak gini, gue kapan suksesnya. Hahhh.

Gue antara masih pengen jualan, atau give up semuanya dan kembali nulis atau gimana?? Selalu galau bertahun-tahun membuat gue selalu bertanya-tanya sebetulnya gue ini maunya apa. Berubah-ubah terus. Dan selalu mempertanyakan apa ya passion gue??

Dan lalu saat ini sudah ganti hari karena gue nulis ini banyak iklannya. Inilah mungkin yang membuat karir menulis gue angot-angotan. Profesi emak rumah tangga membuat gue harus multitasking segala hal, seperti nyuci piring sambil muter baju di mesin cuci, masak sambil gendong anak, boker sambil mikirin menu masakan hari ini dan berbagai hal lainnya. Gue mengamini bahwa gue terlalu sibuk jadi wajar gue nggak bisa nulis lagi. Sibuk sekali memang scroll pinterest bertahun-tahun ini, hemmmm.

Sepagian tadi di hari senin (sekarang udah tengah malam masuk hari selasa) gue berusaha membaca buku yang baru gue beli (btw, ada lebih dari 50 buku yang gue beli dan belum dibaca, mungkin nanti dibaca kalau anak udah pada nikah). Buku yang baru gue beli tersebut berjudul 'Uktub!' Yang berarti 'tulislah!'. Sepertinya sangat memotivasi banget! Gue baca sambil rebahan dan di lembar kedua sukses terjun ke dunia mimpi. Gue tersentak dan terbangun. Lalu lanjut lagi membaca dan sesaat kemudian kembali terlelap. Gitu terus.

Hah, apa-apaan ini, pikir gue. Ternyata enggak hanya kemampuan menulis gue yang mengalami kemunduran, kemampuan gue dalam membaca pun juga sudah uzur. Bayangin ya, waktu jomlo dulu gue bisa baca 2 buku sehari! Dan sekarang hanya mampu 2 lembar aja, busyet.

Lalu gue memutuskan, mungkin gue kurang energi alias laper. Dan pagi itu gue makan untuk ke 3 kalinya. Dan mengakhiri hari dengan barusan banget gue makan ke 7 kalinya. Iya, gue setiap ngerasa ngantuk obatnya makan, lagi mentok inspirasi ya makan, lagi bete ya makan, lagi enggak tahu mau ngapain ya makan. Makan sepiring nasi gitu ya, gue nggak doyan ngemil-ngemil.

Gue juga lagi berasa eneg dan nggak enak body, entah karena hamil atau gara-gara tadi beli pulsa Tsel 25 ribu lenyap gitu aja nggak bilang-bilang, kan jadi Ksel.

Dan gue nulis first post ini serandom mungkin. Kira-kira ingin merangkum apa aja yang ada di pikiran gue.

Dan lalu kira-kira blog ini akan bertema apa? Memang itulah buah pikiran gue bertahun lalu, sampai agak membusuk buah pikiran tersebut.

Gue mau bikin semacam blog tentang emak-emak blogger yang membahas bisnis kecil-kecilan, resep, serta parenting. Dan pengennya sih berbahasa inggris gitu ya, tapi enggak kelar-kelar gue baca buku how to nulis dalam bahasa inggris. Ya inilah yang dinamakan kebanyakan rencana.

Jadi mungkin gue akan ngeblog di situs ini seputaran tema tersebut. Karena belasan blog gue sebelumnya sudah sangat random. Mungkin gue akan mulai dengan belajar bagaimana membuat gambar-gambar banner pinterest yang kece-kece itu ya. Udah belajar sih gue di canva.

Dan gue mulai agak pesimis dengan blog ini. Huahahah. Akan jadi blog apakah dia?? Mari kita simak kelanjutannya!