Curhat

DISTRAKSI

Berapa lama sudah gue habiskan waktu untuk berencana ini-itu tapi gak terlaksana? Banyak.

Dan lalu gue pikir beberapa hal membuat gue terdistraksi dari hal yamg harusnya gue lakukan. Maksud gue, sering kali gini, gue mau buka instagram tuh sebenernya mau mencari tau tentang 'anu' tapi yang ada, gue terdistraksi gara-gara feed yang nongol tentang hal lain yang lalu membuat gue berlama-lama scroll entah apa yang membuat gue lupa 'tadi gue mau ngapain ya, kok lupa'.

Dan gue kumpulin kayaknya ada dua hal yang membuat gue sering terdistraksi seperti itu. Yaitu Hp dan anak. Anak-anak seperti umumnya, sering membuat gue harus mengalihkan perhatian dari hal yang seharusnya gue lakukan. Dan ini memang bikin gue pening juga sih. Soalnya gue kalau lagi fokus trus diganggu, ya ambyar.

Dan lalu, HP. Hihh ini tuh emang ganggu banget ya. Mungkin bukan hpnya ya, tapi lebih ke applikasinya. Untuk gue, yang sering mendistraksi itu adalah applikasi instagram, whatsapp dan shopee. Dan kadang youtube juga ya.

Sering kali gue begadang, tujuannya awalnya untuk nulis gitu ya. Lalu yang ada gue bingung mau nulis apa, trus niat mau cari inspirasi dengan buka instagram. Dan lalu berakhir dengan begadang scroll-in instagram doang. Hihh. Begadang tyada artinya benget.

Begitulah, gue bingung juga kalau masalah hp ini ya. Bagusnya gimana. Gue butuh, tapi gue gak mau berlebihan. Tapi gimana caranya biar bisa nge-rem gitu kan. Sulit sangat. Gue gak bisa menahan diri gue sendiri. Tobatt tobatt..

Bisnis Curhat

ANTUSIASME

Helooo blog dot com-ku yang mulai ambyar postingannya. Dah sebulan lebih kumat lagi malasnya yaa. Heloow.

Dan kini gue kembali lagi. Sebetulnya sangat bbnyak yang mau gue tulis. Ada di kepala tuh kata-katanya udah banyak. Tapi entah kenapa kalau udah di ketik, yaudah, lenyap. Wkwk. Lebih enjoy gue tuh nulis di buku tulis. Entah kenapa. Mungkin karena lebih minim typo, jadi kayaknya lebih lancar nulisnya, enggak terganggu dengan backspace berkali-kali ya. Ini aja udah berapa kali typo, hihh.

Lalu gue mau nulis apa kali iniii. Jadi gue beberapa waktu lalu lihat status seorang teman di instagram yang juga udah mau menginjak umur 30 seperti gue. Doi update tentang band kesukaan dia yaitu bangtan boys atau BTS ya. Seumur-umur gue tau BTS itu singkatan Buku Tahunan Sekolah. Maklum ya gue dulu panitia buku gituan, dan agak trauma, soalnya bukunya mahal dan percetakannya ngaret, jadi gue dulu sering ditagih anak-anak sekelas " Woy, BTS mana? Kok belom jadi-jadi??" Kesannya gue korupsi gitu, makan duit haram dari pengadaan BTS. Jadi setiap temen gue apdet tentang boyband BTS, gue jadi keingetan Buku Tahunan Sekolah tersebut. Wkwkwk. Random banget kan gue. Ya gak papa, yang penting jumlah kata di postingan ini nambah. Haha.

Lalu, kembali ke topik tersebut. Maksud gue, temen gue tersebut sampai bisa nerbitin buku tentang bangtan boys. Ya keren banget lah kalau kayak gitu. Berawal dari suka, berubah jadi ladang duid, sungguh berfaedah sekaleh.

Kenapa gue beri judul antusiasme. Karena memang antusiaslah yang membuat hidup kita jadi lebih hidup (yang gue dapet dari buku Dale Carnegie - yang gw donlot 10 halaman pertamanya di play book haha). 10 halaman pertama aja udah berfaedah tuh buku.

Lalu gue mau mencari kemana antusias itu?

Gue tau banget sih tentang antusias ini. Maksud gue, ini adalah antusias yang juga pernah menyinggahi hidup gue. Ketika gue antusias mau nyoba bikin papeda ikan misalnya, gue akan rela berjibaku di dapur lama-lama. Walau di selingi oleh anak yang mau pup atau angkat jemuran dulu karena hujan, dan berbagai rintangan lain, tapi papeda ikan itu tetap jadi dan rasanya enak. Ini antusias yang gue maksud. Antusias yang gak akan memadamkan semangat kita walau banyak halang rintangan di depan. Antusias ini juga yang dulu ada ketika gue memulai bisnis, walau effort yang gue keluarkan lebih besar dari keuntungan yang di dapat, tapi bisnis itu tetap berjalan. Dimana gue harus ke supplier dengan angkot dan gendong anak, packing lagi di angkot dan pergi ke ekspedisi. Tapi itu semua gue lakukan dengan happy, karena ada antusias di sana.

Dan itu antusiasme jugalah yang membuat gue berhenti dari bisnis itu setelah 5 tahun berjibaku dengan asam garam orderan. Antusias itu hilang. Alasan bahan baku mahal hanyalah tambahan, karena antusias yang hilang-lah alasan sebenarnya.

Antusias yang membuat kita have fun dalam mengerjakan hal di hidup ini. Gue ingin merasakannya lagi. Gue ingin melakukan sesuatu lagi dengan antusias. Inginnya hal itu terjadi dalam hal ngeblog dan juga nulis buku.

Apakah antusias bisa di bangun. Menurut gue bisa. Ngeblog dan nulis buku bisa menjadi hal yang meng-antusias-kan (bener gak bahase gue neh) jika mungkin kita punya mentor? Atau penggemar? You know, kayak orang yang nanya " mana nih postingan baru lo?" Atau "gue suka banget baca tulisan lo, mana nih tulisan yamg baru? Gue tunggu" oh yeahh.. mood boster banget ya kalau kayak gitu.

Dimana gue nyarinya. Apa ada cara lain untuk bangun antusias? Mungkin kalau gue pribadi ya dengan banyak baca, dan ngumpulin tuh buku tutorial menulis. Ya ya ya. Dan mungkin dengan menuis iti sendiri. Praktek menulisnya, seperti nulis di sini. Oke, sip.

Curhat

Manajemen Waktu Ibu Rumah Tangga

Gile berat amat materi gue, kayak udah bener aje.

Oke jadi hari ini walau bangun jam 5-an gue masih berhasil menyelesaikan tugas domestik, masak sosis aja yg simpel buat makan dan juga bekal anak sekolah. Lalu nyuci baju juga nyambi pas lagi masak. Lalu nyuci piring juga yang emang gak begitu banyak. Dan setelah kelar jemurin pakaian, gue pun jalan jalan dikit jam 8pagi keliling dan maen ayunan bentar ama bocah. Lalu balik lagi ngaso di rumah babeh sambil ngemil-ngemil yang bisa di emil. Sambil nulis postingan ketiga yang kelar dalam tempo 1 jam-an. Ini semua produktif sekaleee pageee eneee..

Emang suka ada gitu sih. Hari dimana produktif banget dan ada hari yang rebahan banget. Menurut gue its okay aja. Enggak perlu memforsir diri untuk harus banget setiap hari begini dan begitu. Bukan apa-apa, perasaan ketika gagal menjadi produktif akan menjadi penyesalan dan berujung pada ketidak bersyukuran. Jadi yaa kalo bisa produktif ya Alhamdulillah, kalo harus rebahan seharian ya wa syukurillah.

Terkadang mau produktif, eh tapi anak kok rewel banget seharian, atau kok mood lagi jeleeekkk banget. Ya enggak usah maksain. Kadang target gue dalam sehari cukup sholat 5 waktu aja dah yang wajib. Masak dan lainnya kalau enggak mood ya udah bhayyyy. Enggak usah dibikin ribet. Rumah berantakan bodo amat, diceramahin emak kok rumah kek kapal pecah, selow ajeee. Wkwk.

Hidup kita pokoknya jangan dibikin ribet sama penilaian orang lain ya. Inget, yang penting itu pendapatnya Allah, bukan pendapat tetangga.

Kadang kita terlalu cepat tanggap terhadap penilaian orang lain. Inget ya, orang lain nggak akan kenyang-kenyang dengan julid-annya. Jadi enggak ada gunanya untuk menanggapi apa kata orang lain.

Hal ini untuk gue pribadi sudah gue terapkan. Bahkan gue terkesan judes terhadap orang lain yang berani komen-komen yang tidak gue suka.

Saat orang lain komen, "eh jadi emak-emak harus dandan" tanggapan gue, ya emang gue males dandan trus lu mau ape, kaga usah lihat muka gue kalau enggak suka. Ribet bat lu, enggak semua orang suka lipstikan kek elu. Bibir gue suka gerah di lipstikin. Demen bat bikin orang insecure.

Ketika emak ngomel rumah berantakan, "Yah, mah biarin aja napa, dirapiin juga ntar berantakan lagi". Emak geleng-geleng, gue tetep aje rebahan maen hape. Bodo dah.

Mertua komen ini - itu, yah dijawab aja dengan sebenarnya. Enggak sungkan-sungkan gue tuh orangnya. Apa adanya. Judes adanya. Hahahah.

Dan menurut gue membiasakan diri untuk mengungkapkan perasaan apa adanya ini tuh penting banget ya. Untuk penangkal stress juga. Tahu kan stress itu pangkalnya dari dongkol di hati yang tak terucapkan.

Dan lalu apa hubungan dengan manajemen ibu rumah tangga? Wkwk. Intinya adalah,

Manajemen waktu ibu rumah tangga itu penting namun jangan saklek ya. Mau rencana telaksana ataupun tidak, kita harus percaya bahwa itu sudah takdir Allah yang terbaik.

Untuk kesehariannya, gue sering buat to do list untuk dikerjakan hari itu. Target kerjaan, target ibadah, target masakan dan target belanjaan di tukang sayur. Simple aja kan.

Ini contoh yang gue bikin.

Kadang terpenuhi, kadang kaga. Kadang sempet ditulis, kadang kaga. Biasa aja. Kita kaga setres di rumah doangan aja, udah alhamdulillah gaesss. Haha.

Parenting

Menjadi Ibu Bahagia

Berat banget postingan kali ini. Karena gue pun masih meraba-raba hal ini. Menjadi ibu itu learning by doing, enggak ada pelatihannya. Kalau pun ada pelatihan pra nikah, juga enggak menggambarkan realitas sebenarnya.

Postingan ini gue buat setelah rampung membaca buku Kim Ji Yeong-Lahir tahun 1982, yang lagi viral filmnya kemarenan. So, gue jadi mendapat inspirasi untuk membahas hal ini. Karena gue ibu berpengalaman yang kurang-lebih bisa sharing tentang ini.

Buku itu menceritakan tentang seorang ibu dari korea, namanya Kim Ji Yeong. Sebetulnya agak rempong membaca buku dengan nama yg agak panjang gini, apalagi hampir di setiap scene nama tokohnya selalu di sebut lengkap-lengkap. Udah gitu mirip-mirip namanya. Kalo indonesia kan enak, namanya Lusi, Pitri, Doni, gitu kan simpel yak.

Kim Ji Yeong hidup di korea di tahun yang masih kental budayanya. Seperti nilai-nilai di masyarakat tentang kedudukan laki-laki dan perempuan. Ia sebagai perempuan sering mengalami diskriminasi atas kodratnya itu. Inilah yang menjadi inti permasalahan buku ini. Mungkin bisa dibilang buku ini berbau feminisme sekali.

Klimaks cerita sebetulnya sudah dibuka di awal cerita, bahwa Kim Ji Yeong mengalami depresi pasca melahirkan. Lalu satu persatu dikupas pengalaman hidup Kim Ji Yeong dari kecil bahkan dari kehidupan neneknya, yang memang mengikuti nilai masyakarat bahwa kedudukan perempuan lebih rendah dari laki-laki. Bahkan melahirkan anak perempuan pun menjadi hal yang memalukan.

https://cdn.cgv.id/uploads/movie/compressed/19039200.jpg

Ceritanya cukup banyak, tentang potongan-potongan fase kehidupan Kim Ji Yeong yang semuanya berkaitan dengan diskriminasi, baik ketika sekolah, kuliah, dan bekerja.

Ketika menikah pun Kim Ji Yeong merasa tidak adil bahwa ia harus berhenti bekerja untuk merawat anak. Bisa dibilang semua hal dalam kehidupan Kim Ji Yeong harus ia jalani semata-mata karena manut dengan tradisi yang ada.

Nah, berikut penilaian pribadi dari gue ya. Kalau enggak setuju nggak apa-apa, namanya juga pendapat pribadi.

Jujur ketika membaca buku, gue pasti selalu berandai-andai jika gue yang menjalani kisah tersebut. Makanya gue sering baper kalau baca novel atau nonton film. Dan ketika baca buku ini pun, gue kayak merasakan aura negatif dari pengalaman hidup Kim Ji Yeong. Gila bener, kalau gue jadi dia, yah mungkin bunuh diri aja. Lingkungan yang enggak adil dan dia sendiri pun sering kali enggan untuk buka mulut dengan apa yang dia rasa. Gemes dan ngerasa, yaelah gini amat.

Menurut gue wajar juga ya orang korea banyak setres dan bunuh diri. Karena standar hidup mereka dari budaya dan nilai-nilai masyarakat. Yang mana hal itu selalu berubah-ubah sepanjang waktu. Yang menarik salah satunya kalimat ibunya Kim Ji Yeong

"Kalau begitu, kenapa Ibu tidak menjadi guru?"
"Karena Ibu harus bekerja untuk menyekolahkan paman-pamanmu. Itulah yang dilakukan semua orang. Pada masa itu, para wanita hidup seperti itu."
"Kalau begitu, Ibu bisa menjadi guru sekarang."
"Sekarang Ibu harus mencari uang untuk menyekolahkan kalian. Itulah yang dilakukan semua orang. Itulah yang dilakukan para ibu."

-hal.34

Sedih banget kan. Ibunya Kim Ji Yeong kayak lahir di masa yang salah banget.

Nah makanya, gue sebagai orang beragama islam sangat merasa beruntung. Setidaknya hal-hal yang kita kerjakan di dunia ini mendapat balasannya di akhirat kelak.

Orang korea banyak yang atheis. Dan buku ini pun tidak menyinggung tentang ketuhanan. Jadi mungkin Kim Ji Yeong juga atheis. Wajar kalau dia mempertanyakan ketidakadilan yang ia rasakan. Kenapa kok gue yang harus ngurus anak? Kenapa kok gue yang harus ngerjain ini-itu, manfaat untuk gue apa? Kok gue yang harus rugi berkorban.

Dengan kata lain Kim Ji Yeong nggak punya alasan kuat dan logis untuk bertahan agar nggak depresi. Buat apa begini, buat apa begitu. Dia merasa tersiksa karena merasa nggak dapet apa-apa dan merasa jadi pihak yang malang dan dirugikan.

Coba dalam islam, menjadi ibu rumah tangga ditawari balasan pahala yang begitu besar. Hamil, melahirkan, Menyuapi anak, mencuci baju, mencuci piring, semua ada nilai pahalanya. Bahkan mengajarkan membaca untuk anak, pahalanya bisa mengalir sepanjang hayat anak tersebut. Belum lagi bermesraan dengan suami dan banyak lagi hal lainnya. Semua hal di rumah tangga islami ditawarkan banyak benefit. Walau benefit itu bisanya diambil di akhirat, tapi cukup untuk menumbuhkan optimis dalam hati para ibu-ibu.

Sementara Kim Ji Yeong mempertanyakan kenapa harus perempuan mengalami sakitnya hamil dan melahirkan, membuat dia ragu untuk punya anak di awal pernikahannya. Sementara kita yang beragama justru menganggap itu adalah ladang pahala yang amat besar.

Bersandar pada nilai-nilai selain agama, akan membuat kita lelah dan setres. Nilai-nilai di masyarakat selalu berubah, sementara ketetapan agama selalu sama dari awal sampai akhir. Wanita diwajibkan berjilbab dari zaman dulu sampai sekarang, tidak berubah. Kedudukan perempuan dan laki-laki sudah diatur sesuai porsinya, tidak pernah berubah. Pelajari lebih dalam, dan kita akan tahu bahwa adil itu bukan berarti sama rata, tapi sesuai porsinya.

Laki-laki diberi raga yang lebih kuat agar bisa berurusan dengan hal-hal berat seperti bekerja. Wanita diberi rahim plus dengan berbagai kemuliaannya.

Dan lalu muncul ragam protes-protes dari para wanita tentang kesetaraan. Dan anehnya, kenapa ya kok cuma wanita yang protes? Coba dong laki-laki yang protes gitu, kenapa harus mereka yang capek-capek kerja banting tulang, mereka pasti juga mau rebahan nonton tivi sambil momong anak ๐Ÿ˜‚. Tapi anehnya enggak ada laki-laki yamg protes kayak gitu. Mungkin memang sudah ada gen protes yang tertanam dalam diri setiap wanita. Ini-itu protessss melee. Heran gue juga. Wkwk.

Sebetulnya pemikiran Kim Ji Yeong ini ada dalam setiap wanita. Namun outputnya tergantung bagaimana wanita itu sendiri mengatasinya. Gue pun juga berpikiran seperti itu. Seperti kalimat Kim Ji Yeong kepada suaminya ini saat mereka berencana mempunyai anak,

"Kau berkata kita sebaiknya tidak memikirkan apa yang hilang dari kita. Aku mungkin akan kehilangan masa muda, kesehatan, pekerjaan, rekan kerja, teman-teman, rencana hidup, dan masa depanku. Karena itu aku selalu memikirkan apa yang akan hilang dariku. Tetapi apa yang akan hilang darimu?"

-hal.136

Gue pernah menuliskan kalimat seperti ini di note lama gue. Gue tuliskan ketika lagi bete berat bengang bengong di rumah. Solusinya untuk gue ya kembali ke fitrah diri, mendekatkan diri kepada Allah, bagaimanapun setan akan selalu membisikkan hal-hal negatif agar kita jauh dari Allah.

Jangan tersinggung kalau emak lagi setres lalu dibilang kurang iman. Karena memang demikian kenyataannya. Jika kita makin marah dibilang kurang iman, ya berarti mungkin emang bener. Kurang iman itu kayak gimana? Apakah kita sholat tepat waktu, sholat sunnah, baca quran minimal 1 juz per hari, sedekah? Kalau jawabannya "enggak" yaa berarti memang ente lagi kurang iman. Jangan denial dong.

Kalau ente udah ngelakuin itu semua tapi masih setres, berarti masih ada yang perlu di perbaiki lagi, mungkin sholatnya kurang khusyu, hati kurang ikhlas, kurang berserah, baca quran tapi nggak paham dan sebagainya. Intinya tetap kembali ke Allah terus.

Jadi gue kalau lagi bete berat pasti sangkut pautnya ke situ. Kenapa ya, emosi bener sama anak, oh iya baru baca quran selembar doang! Tambah lagi ahh. Ngecharge iman diri sendiri. Kan udah tahu bahwa Alquran itu obat hati. Beda ama obat kimia, obat yang ini nggak bikin over dosis klo digunakan banyak-banyak. Makin banyak baca dan memahami, insyaAllah makin sehat.

Itulah keuntungan jadi orang islam. Kalau setres ada obatnya, Al-Quran. Kalau orang enggak punya agama obatnya apa? Arak? Soju? Beer? Narkoba? Miras oplosan? Semua itu bukan obat, melainkan racun yang memperburuk mental dan kesehatan kita.

Jadi inget kata kakak gue, yang dulu tinggal di jepang. Orang di sana biasanya memang ogah punya anak, katanya repot. Dan nggak guna juga, karena setelah anak mencapai umur 20 tahun, mereka akan mandiri dan hidup bebas. Orang tua enggak boleh lagi ikut campur urusan anak. Bahkan orang tua bisa di usir kalau mengunjungi anaknya. Kalau bengini jelas kan, hidup bermodal kasih dan cinta aja enggak cukup. Harus ada keimanan yang mumpuni. Dalam islam kedudukan orang tua itu luar biasa.

Enggak heran kalau artis-artis korea yang akhir-akhir ini bunuh diri, ditemukan sendirian aja di tempat tinggal mereka yang mewah. Hidup bergelimang harta memang enggak ada hubungannya sama bahagia. Jadi, kenapa kita harus serius banget nyari materi di dunia ini? Kenapa takut banget telat masuk kantor dibanding telat jamaah di masjid?? Hayooo.

Gitu gaesssโ€ฆ

-postingan buat diri sendiri, kaga usah baper, gue kaga ngomongin lo. ๐Ÿ˜œ

Blog tips

Memilih Tema Blog Pemula



Oh ya. Kini kita ada di postingan kedua gaess. Kira-kira apa yang mau gue tulis? Karena dari kemarin gue sangat mumet sekali memilih tema untuk blog ini. Sepertinya gue kemakan sama standar aesthethic anak jaman sekarang. Apa-apa ribet banget sama penampilan!

Lalu hari ini gue pun masih pusing pilah pilih, puluhan kali ganti tema. Install-uninstall. Nih gue sebenernya maunya gimana?

(Update 2 hari kemudian)

Yeahhh aku kembaliii... gokil dah nulis satu postingan aja pake loading segala 2 hari. So, jadi gue sibuk bulak balik gonta ganti tema blog sampe bingung sendiri. Dan lalu mulai lagi buka pinterest nyari tips ini itu. Dan lalu ketemu sesuatu bernama "Group Pin" or terdengar seperti itu. Berusaha mempelajari. Dan lalu gue jadi ribet lagi. Pengen bikin pinterest bisnis dulu, terus mau bikin instagram dulu dan mau posting di situ dulu.

Helawww

Mau ngeblog aja kok jadi ribet dah. Lagi-lagi gue membiarkan sisi perfeksionis gue menguasai. Inget yaaa inget nih... ngeblog itu sejatinya HANYA NULIS. Gak usah ribet ama ini itu! Percuma juga kalau udah ngelakuin banyak hal tapi bagian nulisnya masih mood-mood-an. Konten is the key, gak usah ribet ama marketingnya dulu.

Untuk tema, gue nyari yang mobile friendly. Tampilan satu kolom. Jujur gue belum lihat blog ini versi dekstopnya gimana. Tapi di tampilan mobile, kurang lebih udah sesuai yang gue mau. Tapi sebetulnya masih kurang pas di beberapa bagian. Tapi yah kita pelajari sedikit demi sedikit. Gue masih mencari dan lihat-lihat plugin apa yang kira-kira cocok.

Kemaren udah nemu sih plugin yang supaya gambar bisa langsung ada pin it button-nya. Gue pun nyari-nyari tema di beranda wordpress aja. Ada ribuan tema di situ. Gue cari khusus yang 1 kolom dan pengen yang ada tampilan gambar postingannya. Bisa diatur sih kita mau cari yang tema gimana. Tadinya pengen yang tema pinky gitu tapi kok gada yang cocok di hati. Udahlah daripada ribet bin mumet. Comot aja yang sekiranya hampir mendekati yang gue mau.

Menurut yang gue pelajari, blog itu yang penting simple dan mudah di load. Percuma kalau penampilan bagus tapi pas diklik kaga keluar-keluar tuh website. Blog itu yang penting tulisannya, inget! Tulisannya!! (Mengingatkan diri sendiri).

Btw, gue pas milih tema ini juga kebetulan ada pengaturan untuk mengatur font-nya. Beberapa tema lain enggak menyertakan ini. Makanya logo tulisan Lagamis di paling atas itu juga bisa diubah fontnya, begitu juga tulisan di postingan ini. Segitu aja sih udah asik. Tapi pengennya tulisan Lagamis di atas tuh warna pink, tapi yaudahlah mungkin nanti gue akan nemu cara ngerubahnya.

Oke, sekarang fokus dulu untuk terus mengisi blog ini dengan tulisan ๐Ÿ˜€.